Jumat, 12 November 2010

Malam Satu Suro





Banyak orang mengatakan bahwa proses Arabisasi saat ini telah marak terjadi di Indonesia berhubung dengan makin banyaknya organisasi dan partai politik yang mengusung nilai2 Islam dalam kehidupan tata sosial kemasyarakatan saat ini.

Tapi benarkah Arabisasi hanya terjadi saat ini?

Arabisasi atau Islamisasi sebenarnya telah terjadi ratusan tahun yang lalu di Indonesia sekitar abad ke-14. Pertama masuk melalui Kerajaan Samudrai Pasai, Perlak dan Kerajaan Aceh yang kemudian menyebar ke P.Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku bahkan Papua.

Hal ini dapat kita lihat dari adat istiadat beberapa suku di Indonesia, suku Melayu, Padang, Batak, Sunda, Jawa, Makasar, Ambon, Borneo dll akan kita temukan unsure-unsur Arab dan Islam disana.

Dalam budaya Jawa, unsur-unsur Arab atau Islam dapat kita temukan pada Cerita Wayang Mahabrata pada lakon Bima Sakti mencari Tuhannya dan peringatan “Malam satu suro”

Dan kota di Jawa yang paling afhdol membicarakan satu suro adalah kota solo. Setiap kota tentunya memiliki adat istiadat yang berbeda, Di Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah, selain kota Yogyakarta , kota Solo lah yang masih sangat erat dan masih memelihara semua tradisi adat Jawa.



Sekaten adalah merupakan salah satu pesta pasar rakyat yang sangat lekat dengan sejarah perkembangan dan penyiaran agama Islam di tanah Jawa , Istilah Sekaten berasal dari bahasa arab yaitu " Syahadatin " yang berarti dua kalimat syahadat, hal ini sarat dengan makna islami pada masa penyebaran agama islam pada masa itu . Pasar rakyat ini hingga sekarang masih menjadi salah satu objek wisata dan pasar budaya yang menjadi salah satu unggulan pariwisata kota Solo .

Pasar malam ini biasanya digelar selama seminggu penuh untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW yang menjadi kalender kegiatan rutin yang di adakan oleh Kraton Solo setahun sekali berdasarkan penanggalan Jawa. Kegiatan di pasar ini sangat lengkap mulai berbagai jualan makanan khas daerah , baju , berbagai kerajinan tradisional sampai mainan yang modern serta banyak pula sarana hiburan rakyat seperti komidi putar dan yang lainnya. Maka tak heran kalau perayaan sekaten selalu penuh sesak dengan pengunjung.

Selain sekaten, Keraton Solo juga perlu dibanggakan. Banyak nilai bersejarah termasuk adai istiadat tersirat di dalamnya.

KIRAB PUSAKA KRATON

Setiap malam 1 muharam atau terkenal malam satu Suro , maka kraton Solo akan menggelar ritual Jamas dan Kirab Pusaka Kraton, ikut serta juga dalam acara kirab tersebut beberapa ekor kebo bule ( Kerbau ) yang di juluki Kebo Kyai Slamet . Acara kirab pusaka ini berangkat dari kraton Solo tepat pada jam 12 malam dan mengelilingi beberapa jalan protokol di kota Solo dengan di iringi oleh punggawa istana dan para pasukan istana. Upacara ini di gelar untuk menghormati dan sekaligus memperingati Bulan Suro ( Muharam ) .

Kegiatan Kirab ini hingga sekarang selalu menjadi salah satu momentum yang paling meriah di kota Solo , dan selalu menarik minat masyarakat kota Solo pada khususnya untuk melihat dan mengikuti prosesi ini . Banyak juga masyarakat di sekitar kota solo , bahkan dari luar kota dan para turis asing sangat antusias mengikuti acara tradisional tersebut .

Apabila upacara kirab yang di ikutkan di dalamnya Kebo kyai slamet tersebut benar benar sangat di tunggu oleh masyarakat . Acara yang sudah menjadi kegiatan rutin Kraton solo tersebut , selainkan menampilkan mitos dan legenda kebo kyai slamet , juga bermacam macam keris dan tosan aji istan lainnya yang di arak keliling dengan sebuah prosesi upacara spiritual dan kental sekali dengan budaya Jawa .
__________________
Sepi memandang alam yang hening

Dunia Pun Menentang Kebijakan Moneter AS

Bersamaan dengan digelarnya pertemuan puncak kelompok negara-negara yang berkontribusi besar pada perekonomian dunia, G20 di Seoul, Korea Selatan, serangan kritikan terhadap kebijakan keuangan AS makin santer dilontarkan. Para pemimpin sejumlah negara seperti menteri keuangan Jerman dan presiden terpilih Brazil menuding Washington sebagai pemicu perang mata uang. Sebagaimana diketahui, Bank Sentral AS (The Fed), Rabu (10/11) lalu, mengumumkan rencana pembelian surat utang senilai US$600 miliar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya. Dilma Rousseff, ekonom yang baru saja terpilih sebagai presiden Brazil, kemarin (Kamis, 11/11) langsung mengkritik langkah AS itu yang disebutnya sebagai "kebijakan dolar lemah AS" dan menyatakan, "Kebijakan dolar lemah merupakan kerugian bagi seluruh dunia. Isu ini selalu menciptakan masalah. Presiden perempuan Brazil ini menambahkan, "Saya meyakini, kondisi ini akan memunculkan kamuflase proteksionisme".
Sementara itu, menyinggung perang mata uang antara Beijing dan Washington, Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schauble menegaskan, "AS tidak bisa menuding China melakukan intervensi dalam menetapkan nilai tukar yuan lantas berupaya melemahkan dollar dengan cara mencetak uang dan menyuntikkannya ke pasar".
Senada dengan negara-negara utama G20, China dan Rusia pun menyebut langkah AS itu sebagai tindakan munafik. Mengomentari isu tersebut, Uri Dadush mantan direktur perdagangan internasional Bank Dunia menuturkan, "Banyak negara yang menyebut langkah AS itu sebagai upaya untuk melemahkan nilai dolar. Sebab melemahnya nilai dolar memiliki artian pembelian komoditas AS oleh warga negara-negara lain sebagaimana yang diungkapkan Obama yang ingin meningkatkan ekspor AS sebesar dua kali lipat dalam jangka lima tahun ke depan". Analis ekonomi asal Perancis itu menambahkan, "Menurunnya nilai tukar dolar bisa saja bakal meningkatkan ekspor AS".
Masih soal perang mata uang antarnegara-negara besar, Jean Claude Trichet, Presiden Bank Sentral Eropa menandaskan, negara-negara besar anggota G20 telah mulai bersaing ketat untuk menurunkan nilai mata uang dan meningkatkan daya saing di kancah pasar internasional. Masalah inilah yang kian mempertajam perang mata uang. Ia menekankan, "Para pemimpin Kelompok G20 dalam sidang kali ini harus menetapkan suatu mekanisme untuk menghadapi krisis tersebut. Fluktuasi nilai mata uang yang lebih luas di pasar internasional harus dicegah. Meningkatnya fluktuasi bisa menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan dan stabilitas perekonomian dunia.
Sedemikian santernya kritikan terhadap kebijakan keuangan AS itu, sampai-sampai mantan Kepala Bank Sentral AS Alan Greenspan dalam wawancaranya dengan harian Financial Times menyatakan bahwa berlanjutnya kebijakan AS untuk melemahkan nilai tukar dolar bakal memperparah konflik kurs di kalangan negara-negara G20. (IRIB/LV)

Semarak Ramadhan Muslim Indonesia di Canberra



Menunaikan puasa Ramadhan di negeri orang adalah sebuah tantangan keimanan tersendiri. Kaum muslim harus siap tidak mendengar kumandang azan atau penanda waktu imsak/berbuka, absennya spanduk ucapan Ramadhan, tanpa acara TV islami ataupun juga komersialisasi Ramadhan lainnya seperti di Tanah Air. Kebanyakan orang “Barat” memang tidak berpuasa dan kehidupan mereka berjalan sebagaimana biasa.
Yang menyejukkan perasaan, tidak ada perbedaan awal puasa Ramadhan di Canberra seperti yang sering terjadi di Tanah Air. Pengumuman awal Ramadhan dari Canberra mosque, satu dari dua masjid di seluruh Australian Capital Territory (ACT), disampaikan melalui sms dan secara cepat menjalar melalui milis-milis komunitas muslim. Selebaran kalender jadwal puasa diberikan secara gratis oleh beberapa sponsor dari kalangan pengusaha muslim di Canberra seperti penjual kebab dan grill ataupun chemist.
Puasa Ramadhan kali ini bertepatan dengan musim dingin di “kota terdingin” di Australia ini. Imsak yang jatuh pada pukul 5: 10 am waktu ACT diliputi suhu sampai minus 4 derajat celsius yang menghadirkan morning frost di pagi hari. Untungnya, kami tidak terlalu merasakan lapar dan dahaga dalam menjalani puasa sampai waktu maghrib menghampiri sekitar pukul 5:32 pm yang biasanya berkisar pada suhu 8 derajat celsius.
Tidak ingin membeku dalam dinginnya kota Canberra, Muslim Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah di kota diplomatik dan pusat pemerintahan Australia ini, bergotong-royong mengadakan acara Ifthor Jamai (Buka Puasa Bersama) di KBRI yang diselenggarakan hari Sabtu lalu (14-08-2010).
Acara yang juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Australia ini diisi dengan santap takjil, sholat maghrib berjamaah, berbuka puasa bersama serta sholat isya dan tarawih berjamaah. Acara yang dinanti-nanti komunitas muslim Indonesia di Canberra ini didukung penuh oleh AIMFACT (Australian-Indonesian Moslem Family in ACT) yang menyediakan makanan khas Indonesia.

Indonesia mini hadir di acara tersebut yang terdiri dari para mahasiswa, diplomat, serta segenap komponen masyarakat Indonesia termasuk juga beberapa warga muslim Australia yang tumpah ruah di Balai Kartini KBRI di Darwin Avenue, Canberra. Tentu saja acara tersebut menceriakan anak-anak karena bisa bertemu banyak kawan sebaya, meski hal yang tak jauh berbeda juga dirasakan kaum dewasa dengan kesempatan silaturahmi sesama warga sebangsa.

Karena populasi muslim yang sedikit dan minoritas, jadilah beberapa orang menjadi imam sholat dan khotib “dadakan”. Tak mengherankan, kawan sepakbola atau bulutangkis atau kolega cleaner kita bertindak sebagai penceramah atau tokoh agama. Para mahasiswa dari berbagai latar belakang dan aktivitas sebelumnya di Tanah Air yang sedang menempuh studi lanjutan di Canberra ini menjadikan mereka di acara tersebut mozaik muslim Indonesia.
Tujuh belas menit “Kultum” oleh A’a Gun menarik perhatian para jamaah. Tausiah yang disampaikan tentang pentingnya meningkatkan iman serta menyelami hakikat puasa Ramadhan sebagai satu-satunya ibadah yang diperuntukkan bagi Allah SWT, agar bisa mencapai derajad puasa orang special, dan bukan hanya khusus apalagi puasa orang awam. Bagaimana kehadiran Allah SWT sebenarnya sedemikian dekat, lebih dekat dari urat leher manusia.
Dalam paparannya, dicontohkan oleh para salafusaleh tentang cara-cara meningkatkan iman. Bagaimana puasa Ramadhan memberi insentif kepada manusia untuk berlomba mendapatkan ridha Ilahi dengan mengisinya dengan khiyamul lail serta tilawah Al Quran. Meninggalkan pandangan dan pendengaran dari yang makhruh atau buruk, serta harap-harap cemas akan hasil akhir puasa kita seharusnya menjadi perhatian muslim di bulan penuh berkah ini.
Pada bulan penuh ampunan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan iblis diikat. Diperlukan upaya preemptive yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas iman kita di bulan seribu bulan ini. Dalam khotbahnya tersebut, A’a Gun juga menyampaikan bagaimana teladan Umar bin Khotob yang “menghukum diri” dengan menghibahkan kebun korma yang telah membuatnya terlambat melaksanakan sholat berjamaah. Tausiah tersebut secara kontekstual efektif membangunkan keimanan dalam lingkungan yang asing dan sekuler seperti di Canberra ini.
Tak bisa dibantah, acara tersebut telah menghadirkan kebersamaan segenap komponen masyarakat Indonesia di Canberra, diantara pengikut ormas Islam yang berbeda-beda. Toleransi yang tercipta nyata pada proses penentuan Imam, khotib serta jumlah rokaat sholat tarawih yang diputuskan dan diselenggarakan secara bersama-sama. Kondisi sedemikian yang sepertinya tercipta karena keadaan minoritas di negeri orang, sangat melegakan semua pihak.
Akhirnya acara malam itu diakhiri dengan berjabat tangan melepas kangen dan bermaafan dengan harapan dapat berjumpa pada acara serupa hari sabtu berikutnya sampai akhir Ramadhan. Kalaupun tidak bisa bertemu sanak saudara di Tanah Air, cukuplah para saudara di perantauan ini menjadi pelipur lara. Semoga acara semarak Ramadhan di Canberra ini bisa mencapai tujuan azasinya. Amin.
[kiriman Nico Andrianto, Mahasiswa Master of Policy and Governance Program, Crawford School of Economics and Government, Australian National University (ANU), Canberra, Australia]

Mendapat Pertolongan Setelah Membaca Ayat Kursi


Madinah kota suci. Setiap orang yang memasuki kota ini diyakini akan mendapatkan balasan atau teguran secara langsung atas amal ataupun dosa yang dilakukan. Hal-hal yang aneh, ajaib, dan tidak masuk akal kerap dialami jamaah calon haji (calhaj) saat berada di kota mulia ini.
Malam Senin (18/10/2010), misalnya, seorang ibu masih menggigil kedinginan
ketika tiba di kantor Daerah Kerja Madinah. Calhaj asal Jawa Tengah itu, tidak tahu jalan pulang ke pemondokannya. Ia tersesat setelah melakukan salat Isya di Masjid Nabawi.
Petugas haji berkali-kali membujuk sang ibu agar mau makan biar bisa minum obat. Tapi si ibu menggeleng saja. Ia memilih tiduran di sofa, menelungkupkan badannya yang demam.
“Tadi saya sudah minum obat. Saya maunya disuntik saja agar cepat sembuh,” kata ibu berusia 53 tahun itu.
Sang ibu pergi ke tanah suci sendirian. Suaminya telah meninggal dunia. Ini
merupakan hari keempat ibu asal Boyolali itu berada di Madinah. Ia mengaku mulai sedikit hafal jalan dari hotel tempatnya menginap menuju Masjid Nabawi.
Malam itu ia pergi ke masjid untuk salat Maghrib dan Isya bersama teman-teman serombongan. Namun setelah salat ia terpisah dari sang kawan.
“Saya sudah berjalan jauh sekali. Ke sana ke mari. Mungkin ada kalau satu jam. Saya melewati jurang-jurang banyak sekali. Tebing-tebing curam, saya takut sekali,” cerita sang ibu saat diantar pulang menuju pemondokannya.
Calhaj asal Boyolali itu lantas terus-terusan berdoa. Ia membaca ayat kursi memohon pada Allah agar diberikan keselamatan. Dan doa itu dikabulkan oleh Allah. Tidak lama kemudian muncul orang yang menolong ibu paruh baya tersebut.
“Setelah saya membaca ayat kursi tiba-tiba ada laki-laki yang menolong saya.Saya diantar ke kantor tadi (Daker). Dia baik sekali bahkan tidak mau saya bayar,” kata si ibu.
Setelah sampai ke pemondokannya si ibu pun menyatakan akan terus berdoa dan meminta ampunan pada Allah atas dosa tertentu yang mungkin pernah dilakukan. “Katanya kalau di Mekkah atau Madinah itu seperti ujian bagi kita, kita diuji dengan mendapat teguran langsung atas salah kita,” kata si ibu.
Kisah aneh lainnya dialami seorang jamaah asal Jakarta. Pria itu masih gagah,umurnya baru 53 tahun. Awalnya ia sangat yakin tidak akan tersesat untuk pulang ke pemondokannya. Namun usai salat asar, ia hanya muter-muter tidak menemukan pemondokan yang dicarinya. Ia bahkan terpisah dari sang istri.
“Tadi ke sini sama istri saya. Saya yakin nggak tersesat soalnya pemondokannya sangat dekat. Tapi setelah saya jalan kok tidak ketemu juga, Istri saya juga nggak tahu sekarang ada di mana. Saya mungkin ditegur karena terlalu percaya diri,” kisah calhaj asal Jakarta tersebut.
Sang bapak pun akhirnya ditolong petugas haji dan diantarkan ke pemondokan.
mch/taufik rachman

Hari Asyura-Syahid Di Padang Karbala



Hari Asyura Mengenang Syahidnya Cucu Nabi Muhammad

Hari Asyura (عاشوراء ) adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh. Hari ini menjadi terkenal karena bagi kalangan Syiah dan sebagian Sufi merupakan hari berkabungnya atas kesyahidan  Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad SAW pada pertempuran Karbala  yang tidak seimbang tahun 61 H (680). Sedangkan kaum Sunni meyakini bahwa Nabi Musa  berpuasa pada hari tersebut untuk mengekspresikan kegembiraan kepada Tuhan karena kaum Yahudi sudah terbebas dari Fira’un (Exodus). Menurut tradisi Sunni, Nabi Muhammad berpuasa pada hari tersebut dan meminta orang-orang pula untuk berpuasa. Kewaskitaan Nabi Muhammad tidak diragukan lagi mengenai peristiwa tersebut bahkan ketika Abu Sofyan akan mempunyai anak yaitu Muawiyah telah diramalkan akan  membunuh keturunnya kelak.

Dalam kisah tarikh khulafaurrasyidin diceritakan, saat Imam Hussain menggendong bayi berumur enam bulan, Ali Al-Ashgar, putranya, kehausan karena saluran air yang menuju kemahnya ditutup sejak 7 Muharram. Bayi yang menangis kehausan itu tak sempat menikmati tetesan air  Sungai Eufrat, karena keburu mati kena anak panah beracun yang melesat dari busur tentara Yazid bin Muawiyah, menembus leher bayi itu saat Imam Hussain akan mengambil air dari sungai.
Pada 7 Muharram 61 Hijiriyah, kuda Hussain secara aneh berhenti dan tidak mau bergerak lebih jauh lagi. Saat itu dan rombongannya berencana menuju Kufah, sekitar 80 kilometer lagi. Setelah berhentinya kuda, Imam Hussain menyatakan: ”Inilah tanah itu, tanah penderitaan dan penyiksaan.”
Dalam buku 14 Manusia Suci terbitan Pustaka Hidayah, Jakarta, 1990, diceritakan Hussain turun dari kudanya dan memerintahkan pengikut-pengikutnya berkemah di tempat itu dengan mengatakan, ”Di sinilah kita akan syahid dan anak-anak kita akan dibunuh. Di sini kemah kita akan dibakar dan keluarga kita akan ditawan. Inilah tanah di mana datukku, Rasulullah, telah meramalkan, dan ramalannya pasti terpenuhi.”
Asyura berasal dari kara asyrah, sepuluh. Alkisah, pada waktu fajar 10 Muharram 61 Hijiriyah, Hussain melihat pasukan Yazid, sang komandan Umar bin Sa’ad memerintahkan pasukannya bergerak menyerang kemah Hussain. Melihat itu Hussain segera mengumpulkan pengikut-pengikutnya. ”Hari ini Allah telah mengizinkan kita untuk melaksanakan perang suci, dan Dia akan memberikan pahala atas kesyahidan kita. Maka siapkanlah diri kalian untuk berperang melawan musuh Islam dengan kesabaran dan perlawanan,”katanya.
“Wahai para putra orang-orang mulia dan mempunyai harga diri, bersabarlah. Kematian tak lain hanyalah jembatan yang harus kalian seberangi setelah menghadapi cobaan dan godaan, untuk mencapai surga dan kesenangan,”ujar Hussain. Ajakan dan pidato Hussain menuju kesyahidan disambut para pengikutnya. ”Wahai pemimpin, kami siap untuk membela Anda dan ahlul bait Anda, serta siap mengorbankan jiwa kami untuk Islam,”katanya serempak.
Seorang demi seorang keluar dari lingkungan kemah dan berperang melawan tentara Yazid. Mereka gugur satu per satu di Padang Karbala. Tangan Hussain tertembus panah saat memegang bayi berusia enam bulan yang akan diberi minum air Sungai Eufrat. Hussain lalu bertempur dengan pasukan yang bengis itu. Pasukan Yazid berhasil membunuh Imam Hussain. Mereka menusuk dan memotong kepalanya. Lalu dengan tombak potongan kepala itu dibawa keliling padang tandus itu, sambil menyebut ”Allahu Akbar.” Itulah tragisnya perang saudara di Padang Karbala dalam kancah politik berebut kekuasaan saat itu. Karena itu, sejumlah ulama tidak melihat masalah yang terjadi antara sahabat Rasulullah dalam konteks agama, karena itu problematika politik yang bisa terjadi pada siapa saja.
Bubur Asyura
Ribuan muslim Syiah setiap tanggal itu memperingati di kota Karbala. Begitu pula kesibukan umat Islam di Tanah Air, sebagian umat Islam khususnya penganut paham Ahlus Sunah Waljamaah memperingati Asyura juga terasa. Di masjid dan musala ditandai dengan kegiatan membaca wirid. Misalnya dengan membaca Surat Al-Ikhlas, wirid doa meminta perlindungan kepada Allah SWT, sampai ke sedekah kepada fakir miskin dan makan bersama dengan bubur (jenang) merah atau putih.
ASYURA atau tanggal 10 Muharam tak hanya dikenal di kalangan orang Syiah. Kaum muslim di Indonesia, yang mayoritas penganut Ahlus Sunnah Waljamaah, juga mengenal peringatan itu. Bahkan, ada tradisi di Jawa membuat bubur yang disajikan untuk bersedekah yang disebut bubur Asyura. Hal itu dilakukan setelah melakukan puasa sunah pada tanggal tasu’a (9 Muharam) dan asyura (10 Muharam).
Tentu saja ritual ibadah juga dilakukan dengan membaca ayat Alquran tertentu, seperti surat Al-Ikhlas dan doa yang isinya meminta pertolongan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai bencana. Artinya, selain penganut ajaran Syiah, muslim di Indonesia juga mengenal peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 10 Muharam tersebut.
Asyura (10 Muharram) di Indonesia, hari yang satu ini mungkin tak terlalu dianggap istimewa. Paling-paling hanya di beberapa daerah yang dirayakan cukup istimewa, karena sudah menjadi tradisi daerah tersebut. Beberapa daerah lain juga merayakannya, namun lebih seringnya berupa perayaan yang sederhana, hikmat, dan jauh dari hiruk-pikuk perlawanan. Lain halnya di beberapa wilayah Timur Tengah (terutama yang mayoritasnya adalah penganut Syi’ah), ternyata Hari ‘Asyura dirayakan dengan spirit perjuangan, perlawanan terhadap kezaliman penguasa dan penjajah, penuh dengan darah dan pengorbanan.
Spirit ‘Asyura inilah yang telah mengobarkan Revolusi Iran. Hal yang sama juga menginspirasi para pejuang di Iraq dan Afghanistan untuk terus melakukan perlawanan terhadap kezaliman dan penjajahan yang hingga kini masih mendera negeri mereka. Mudah-mudahan spirit Asyura juga menjadi salah satu landasan perjuangan rakyat Palestina yang hingga kini masih terjajah di negeri tumpah darah mereka sendiri oleh Bangsa Israel. Israel merupakan bangsa barbarian dan nomaden yang dari dulu hingga kini tak pernah memiliki negeri sendiri.
Jika membayangkan apa yang terjadi dengan Bangsa Palestina kini, mungkin kita juga bisa membayangkan apa yang terjadi dengan pasukan Imam Husayn ibn Ali ibn Abi Thalib (cucu Rasulullah) yang dibantai di Karbala-Iraq oleh pasukan Yazid ibn Muawiyah. Jumlah pasukan Imam Husayn hanya kurang lebih 70 orang, sedangkan pasukan pembantainya berjumlah 30.000 orang. Inilah perang yang tidak seimbang.
Apa yang terjadi di Karbala pada masa lalu, kini terjadi lagi di Negeri Palestina. Sejarah memang selalu berulang. Genangan darah sepertinya tak pernah mau kering di negeri para nabi ini. Semoga kedamaian akan segera diraih oleh Bangsa Palestina.
Pada Hari ‘Asyura, di Iran kita akan mendengar teriakan, “Kullu yaumin ‘Asyura, Kullu Syahrin Muharram, Kullu Ardhin Karbala” (Setiap hari adalah ‘Asyura, setiap bulan adalah Muharram, dan setiap tempat adalah Karbala).
Dari berbagai sumber
Surat Terakhir Muawiyah Kepada Yazid

Kepada putraku, Yazid
Tak pelak, kematian adalah peristiwa yang sungguh menyeramkan dan sangat merugikan bagi seorang lelaki (berkuasa) seperti ayahmu. Namun, biarkanlah, semua peran telah kumainkan. Semua impianku telah kuukirkan pada kening sejarah, dan semuanya telah terjadi. Aku sangat bangga telah berjaya membangun kekuasaan atas nama para leluhur Umayyah.
Namun, yang kini membuatku gundah dan tak nyenyak tidur adalah nasib dan kelanggengannya pada masa-masa mendatang. Maka camkanlah, putraku, meski tubuh ayahmu telah terbujur dalam perut bumi, kekuasan ini, sebagaimana yang diinginkan Abu Sufyan dan seluruh orang, haruslah menjadi hak abadi putra-putra dan keturunanku.
Demi mempertahankannya, beberapa langkah mesti kau ambil. Berikan perhatian istimewa kepada warga Syam. Penuhi seluruh kebutuhan dan saran-saran mereka. Kelak mereka dapat kau jadikan sebagai tumbal dan perisai. Mereka akan menjadi serdadu-serdadu berdarah dingin yang setia padamu.
Namun, ketahuilah, kedudukan dan kekuasaan ini adalah incaran banyak orang bak seekor kelinci manis di tengah segerombolan serigala lapar. Maka, waspadalah terhadap empat tokoh masyarakat yang kusebutkan di bawah ini:
Pertama adalah ‘Abdurrahman putra Abubakar. Pesanku, jangan terlalu khawatir menghadapinya. Ia mudah dibius dengan harta dan gemerlap pesta. Benamkan dia dalam kesenangan, dan seketika ia menjadi dungu, bahkan menjadi pendukungmu.
Kedua adalah ‘Abdullah putra ‘Umar bin al-Khaththab. Ia, menurut pengakuannya, hanya peduli pada agama dan akhirat, seperti mendalami dan mengajarkan al-Qur’an dan mengurung diri dalam mihrab masjid. Aku meramalkan, ia tidaklah terlalu berbahaya bagi kedudukanmu, karena dunia di matanya adalah kotor, sedangkan janji-janji Muhammad adalah harapan pertama dan terakhir. Biarkan putra rekanku ini larut dalam komat-kamitnya!
Ketiga adalah ‘Abdullah putra Zubair. Ia seperti ayahnya. Bisa memainkan dua peran, serigala dan harimau. Pantaulah selalu gerak-geriknya. Jika berperan sebagai serigala, ia hanya melahap sisa-sisa makanan harimau dan tidak mengusikmu. Apabila memperlihatkan sikap lunak, sertakanlah cucu Al-’Awam ini dalam rapat-rapat pemerintahanmu. Namun, jika ia berperan sebagai harimau, yaitu berambisi merebut kekuasaanmu, maka janganlah mengulur-ulur waktu untuk mengemasnya dalam keranda. Ia adalah bangsawan yang cukup berani dan cerdik.
Keempat adalah al-Husain putra ‘Ali bin Abi Thalib. Sengaja aku letakkan namanya pada urutan terakhir, karena ayahmu ingin mengulasnya lebih panjang. Nasib kekuasaanmu sangat ditentukan oleh sikap dan caramu dalam menghadapinya. Bila kuingat namanya, aku ingat pada kakek, ayah, ibu dan saudara-saudaranya. Bila semua itu teringat, maka serasa sebongkah kayu menghantam kepalaku dan jilatan api cemburu membakar jiwaku. Putra kedua musuh abadiku ini akan menjadi pusat perhatian dan tumpuan harapan masyarakat.
Pesanku, sementara, bersikaplah lembut padanya, karena, sebagaimana Kau sendiri ketahui, darah Muhammad mengalir di tubuhnya. Ia pria satria, putra pangeran jawara, cucu penghulu para satria. Ia pandai, berpenampilan sangat menarik, dan gagah. Ia mempunyai semua alasan untuk disegani, dihormati, dan ditaati.
Namun, bila sikap tegas dibutuhkan dan keadaan telah mendesak, Kau harus mempertahankan kekuasaan yang telah kuperoleh dengan susah payah ini, apapun akibatnya, tak terkecuali menebas batang leher al-Husain dan menyediakan sebidang tanah untuk menanam seluruh keluarga dan pengikutnya.
Demikianlah surat pesan ayahmu yang ditulis dalam keadaan sakit. Harapanku, Kau siap melaksanakan pesan-pesanku tersebut.
(dikutip dari buku Husain, Sang Ksatria langit, Penerbit Lentera. Sumber: Maqtal al-Husain, Hal. 175 karya Al-Kahwarizmi dan Maqtal Abu Mikhnaf

Kemeriahan Maulid Hanya di Madura

Kemeriahan Maulid Hanya di Madura

“Sholatullah Salamulla’Ala Thoha Rosulullah, Sholatullah Salamullah ‘Ala Yasin Habibillah”
Setelah bertahun-tahun lamanya tak menikmati kemeriahan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di kampung tercinta, Alhamdulillah tahun ini bisa menikmati kembali kemeriahan ini. Pembukaan perayaan ini dimulai tanggal 14 Februari 2010 = 1 Rabiul Awal. Di saat para pencinta dunia merayakan hari valentine yang katanya hari kasih sayang, maka bagi sebagian besar masyarakat Madura menyambut bulan maulid ini dengan melakukan acara pembacaan shalawat di masjid-masjid atau surau-surau. Bagi orang Madura bulan maulid ini sudah seperti lebaran, ajang untuk berbagi kepada sesama atas rezeki yang telah Allah karuniakan kepadanya. Ada yang menitipkan sebagian rezekinya ke Masjid atau surau dengan memberikan tumpeng atau makanan lain untuk dibagikan kepada para jemaah yang hadir. Dan bagi yang mampu dapat menyempurnakannya dengan merayakannya di rumah masing-masing untuk bersama-sama mengaajak para tetangga dan kerabat melantunkan shalawat bersama-sama.
Bagi masyarakat Madura, awal bulan maulid dikenal dengan istilah “COCOGAN”, saya juga bingung untuk mengkonversinya ke dalam bahasa Indonesia baik secara harfiah ataupun istilah. Kalau berdasarkan penafsiran pribadi, ini bisa diartikan perayaan  penyambutan/pembukaan maulid atau bisa dikatakan GRAND OPENING-nya yang menandakan bahwa Maulid telah dimulai dan dipersilahkan untuk merayakannya dengan membagikan kelebihan harta/rezeki yang dimiliki dengan bersedekah di Masjid aatau di rumah masing-masing.
Untuk awal ini, biasanya masjid-masjid menerima sedekah berupa makanan atau angpao dari tetangga sekitar dan kemudian dibagikan kepada para hadirin. Untuk makanan biasanya berupa tumpeng yang berisi anake lauk, sayur serta buah. Fase ini, besek tidak terlalu berseliweran, hanya beberapa saja. Sepertinya di bulan ini, bisnis makanan, buah, plastik, tempat makan, kue laku keras karena banyak orang-orang yang membelinya. Sayang saya tidak terlalu bakat di bidang ini.
Buk, saya bungkus 2 ya!
Komposisi tumpeng seperti ini adanya hanya di Madura dan inilah yang senantiasa saya rindu-rindukan. Jika suruh memilih antara yang besek dan tumpeng, maka untuk fase awal ini saya akan memilih tumpeng. Adapun komposisi tumpeng setelah dibungkus berisi : nasi tentunya, sayur berupa urap-urap, ikan teri/asin, telur dadar, tempe goreng/ada juga yang berkuah (gak tau namanya apaan), pisang,……Ajib deh pokoknya. Semuanya dalam kondisi panas, langsung makan di tempat lebih mantap.
Setelah memasuki fase awal, perayaan maulid di masjid dilakukan juga pada malam 12 Rabiul Awal. Pada tanggal 12 Rabiul Awal merupakan hari kelahiran Rasulullah SAW. Untuk perayaan fase 2 ini lebih semarak dan dengan durasi yang lebih lama juga tentunya pembacaan shalawatnya. Jika pada tahap 1 dominansi tumpeng mengalahkan besek, maka pada tahap 2 ini adalah sebaliknya “dominansi besek mengalahkan tumpeng”. Bisa-bisa setiap orang mendapatkan lebih dari  2 besek, apalagi anak-anak kecil bisa mendapatkan 4 besek lebih. Karena demikian banyaknya sedekah dari masyarakat yang terkumpul.
*********
Jika perayaan ini ada yang mengatakan bid’ah atau apalah. Sebenarnya perlu kita telusuri lagi lebih dalam dan jauh, bagaimana..untuk apa serta apa manfaat yang didapat. Ini beberapa hal yang saya dapatkan :
- Dengan peringatan ini, semakin meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah, walaupun dimensi ini kadang terlupakan karena hanyutnya kita kepada kemeriahan, sehingga bukan shalawatnya yang diprioritaskan namun bese yang mana yang saya incar
- Mempererat silaturrahim, karena bisa mengundang tetangga dan kerabat untuk berkumpul dalam satu tempat. Namun kadang bisa memunculkan gap (perbedaan juga), karena kadang-kadang timbul pernyataan komparatif dari para hadirin mengenai hidangan atau paket yang diterima atas undangan tersebut,  apalagi jika yang diberikan atau yang mereka terima kurang atau apalah (khususnya ibu..) maka ada saja yang muncul setelahnya. Jika sudah begini, tidak usah didengarkan “luruskan niat” saja dan biarkan mereka berbicara, semoga diberikan kekuatan untuk mengundang mereka lagi dengan lebih baik di tahun yang akan datang. Kata beberapa kerabat “toh mereka yang ngomongin belum tentu bisa mengundang tetangga”
- Berbagi nikmat dan bersedekah dengan yang lain. Harta yang sesungguhnya adalah yang kita berikan kepada orang lain, maka alangkah sedikitnya harta kita karena apa yang kita berikan kepada orang lain sebenarnya sangatlah sedikit
- Membuka pintu ijabah atas hajat dan do’a. Dengan berkumpulnya orang-orang yang kemudian dibacakan do’a untuk shohibul hajjah insyaAllah akan terbuka jalan keluar untuk sang tuan rumah maupun orang yang hadir
- Semoga mendapatkan insyaAllah Syafaat Rosulullah juga rahmat Allah di hari kelak
- Bisa juga menjadi media dakwah
- Apalagi ya????? silahkan diamati saja sendiri, kalau perlu hadir langsung di acara atau undangannya.
Selamat merayakan maulid Nabi Muhammad SAW, semoga kita senantiasa tergolong dan masuk ke dalam kaumnya. Meneladaninya akhlaqnya dan bershalawat atas “Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad Waa ‘Ala ‘Aliy Sayyidina Muhammad”…”Allahumma Sholli Waa Sallim ‘Alaih”.

Milad-e Nabi - Milad-un Nabi - Maulid Prophet Muhammad's Birthday


His perfection procured exaltation,

His beauty dispelled the darkness,

All his attributes were good ones,

Pray for him, and for his family. Salwaat!


"And peace on him on the day he was born, and on the day he dies, and on the day he is raised to life" Holy Quran 19:15

Allahuma salli ala Muhammadin wa Aal-e Muhammad
O God! Shower thy blessings on Muhammad and the descendents of Muhammad

Download Salwaat Audio file
Milad-un Nabi or Maulid (Mawlid) is the birthday celebration of our beloved Prophet Muhammad (s.a.s.) and is celebrated by Muslims as Eid-e Milad. Prophet Muhammad was born Arabia in the city of Mecca on the 12th day of Rabi-ul-Awwal, which was Monday the 20th day of April, 571 A.C. This falls on Saturday May 25, 2002 and fell on June 4th last year (2001). This is also his death anniversary. The occasion is celebrated by remembering the favors bestowed on the ummah (community), the first is the revelation of the Holy Quran with its instructions, the second, the institution of an Everliving Guide who would advise the mu'mins (believers) according to the needs of the time. This is why Ismailis are called Ibn'ul Waqt (children of the time) as they are guided by the Imam of the time, Noor Mowlana Shah Karim Al Hussayni Hazar Imam (salwaat), His Highness the Aga Khan. He is the 49th Imam descended from the Holy Prophet's daughter, Fatima and Hazrat Ali (a.s.). For Shia Muslims, this occasion is of even more import and full of symbolism as this was also his death anniversary and, therefore, it endorses the Hablillah (Rope of Imamat) wherein Prophet Muhammad had chosen Hazrat Ali as his successor at Gadhir-e Khumm. What I am trying to say is that, this more than a coincidence. Prophet Muhammad's birthday coincided with his physical passing as was ordained by God. Hazrat Ali took over the spiritual reins from him and this chain has continued to the present. In every jomma (period of Imamat) the previous Imam appoints the following Imam and even though the previous Imam passes away physically, which could be a day of mourning, the ummah rejoices at the installation of the new Imam as the Covenant (promise of the Light of Allah) continues.
Regarding this, Mowlana Sultan Mahomed Shah (a.s.) said in one of his sermons:
We (the Imams) change the physical bodies in the world but our Noor (Divine Light) is eternal and comes from the very beginning. You should therefore take it as one Noor. The Noor (Light of Allah) is ever present, only the names are different. The Throne of the Imamat of Mowlana Murtaza Ali (a.s.) continues on and will remain till the Day of Judgment." (source: Ilm, Vol. 3, No. 2 - November 1977 pg 22)
The Eid-e Milad and Eid-e Gadhir are two very important celebrations for Shia Muslims. On this day every year, believers gather to recite special prayers for thanksgiving to Allah for sending Prophet Muhammad as a mercy to all nations, and speeches and lectures are made about the seerat (life) and instructions of the Holy Prophet. Poetry in the form of naats are recited and after the prayers, sweets are distributed and perfume is sprinkled or applied on everyone. The ladies and children gather for the mehndi (henna) application and everyone wears beautiful clothes for the occasion. Children get money or gifts and in East Africa we used to go to a fete, Eid Mela (fun fair) organized on this occasion by community members and we could ride on the swing merry-go round on which as children we had great fun.
In countries with Muslim concentration, the celebrations go on for the first twelve days of the month called Barah Wafah (twelve days before passing) and there are conferences and mehfils (gatherings) everyday.
Our beloved Prophet offers humanity a perfect example in all facets of life. The Holy Quran declares: "Verily, you have in the messenger of Allah, a most beautiful model (Uswa al-Hassanah)." Laqad kana lakum fee rasooli Allahi oswatun hasanatun Quran 33:21
And the unbelievers

Would almost devour thee

With their eyes when they

Hear the Message; and they

Say: Surely he is possessed

But it is nothing less

Than a Message

To all the worlds. 61:51-52Prophet Muhammad lived among his people and taught them about the belief in one God, ethics in everyday life and the importance of education in leading an exemplary life. In this regard, some of his famous sayings are "Seek knowledge even unto China", "acquire knowledge, for he who acquires it performs an act of piety; he who speaks of knowledge, praises God: he who seeks it, adores God." He also declared: "The ink of the scholar is more precious than the blood of the martyr."
Mowlana Sultan Mahomed Shah stressed this message of Prophet Muhammad and maintained that Islam by its very nature was dynamic and not rigid and spiritual faith should advance with along with material progress. In his Message to the World of Islam, he said:
"Formalism and verbal interpretation of the teachings of the Prophet are in absolute contradiction with his whole life history. We must accept his Divine Message as the channel of our union with the 'Absolute' and the 'Infinite' and once our spiritual faith is firmly established, fearlessly go forward by self sacrifice, by courage and by application to raise the scientific, the economic, the political and the social position of Muslims to a place of equality with Christian Europe and America.
"Our social customs, our daily work, our constant efforts, must be tuned up, must be brought into line with the highest form of possible civilization. At its greatest period Islam was at the head of science, was at the head of knowledge, was in the advance line of political, philosophical and literary thought."
Addressing the Seerat Conference, our beloved Mowlana Hazar Imam advised the Muslim World to make the Prophet's life the beacon light for achieving a truly modern and dynamic Islamic society. He said:
"The Holy Prophet's life gives us every fundamental guideline that we require to resolve the problem as successfully as our human minds and intellects can visualize. His example of integrity, loyalty, honesty, generosity, both of means and of time his solicitude for the poor, the weak and the sick, his steadfastness in friendship, his humility in success, his magnanimity in victory, his simplicity, his wisdom in conceiving new solutions for problems which could not be solved by traditional methods, without affecting the fundamental concepts of Islam, surely, all these are foundations which correctly understood and sincerely interpreted, must enable us to conceive what should be a truly modern and dynamic Islamic society in the years ahead."
His life and achievements are so wonderful and expansive that I cannot cover them in this short article and for this reason, I urge you to peruse the links at the bottom of this page for more material.
The following excerpts have been provided by my good friend, Courtney Kirshner, who encouraged me to get this article up even though I missed the birthday deadline this year. They are taken from Annemarie Schimmel's Mystical Dimensions of Islam:
"As early as the late eleventh century, and generally from the twelfth century on, the veneration of the Prophet assumed a visible form in the celebration of the maulid, his birthday, on 12 Rabi' ul-awwal, the third month of the Muslim lunar year. This day is still celebrated in the Muslim world. The number of poems written for this festive occasion in all Islamic languages is beyond reckoning. From the easter end of the Muslim world to the west the maulid is a wonderful occasion for the pious to show their warm love of the Prophet in songs, poems, and prayers." Page 216
The next material is from Schimmel's book "And Muhammad is His Messenger" it has a whole chapter devoted to this topic!
"It seems that the tendency to celebrate the memory of Muhammad's birthday on a larger and more festive scale emerged first in Egypt during the Fatimid Era (969-1171). This is logical, for the Fatimids claim to be the Prophet's decendants through his daughter Fatima. The Egyptian historian Maqrizi (d.1442) basing his account on Fatimid sources. It was apparently an occasion in which mainly scholars and the religious establishment participated. They listened to sermons, and sweets, particularly honey, the Prophet's favorite, were distributed; the poor received alms." page 145
The earliest Arabic sources, basing their claims on Koranic epithets like sirajun munir, a 'shining lamp,' tell that a light radiated from Amina's womb with the arrival of the newborn Proghet. Hassan ibn Thabit [poet, contemporary of Muhammad who joined him in Medina and eulogized important events in the Muslim community] sings in his dirge for Muhammad that his mother Amina of blessed memory had born him in a happy hour in which there went forth "a light which illuminated the world"
It is not surprising that this spiritual light was soon given material reality in the accounts of the Prophet's birth, as can be seen first in Ibn Sa'd's historical work in the ninth century. Yunus Emre [turkish sunni poet d.1321] sings like numerous poets in his succession in Turkey, Iran, and India:
"The world was all submersed in light
In the night of Muhammad's birth." page 149-150

"The first comprehensive work about the Prophet's birth, as far as one knows, was composed by the Andalusian author Ibn Dihya, who had participated in the festive maulid in Arbela in 1207. Written in prose with a concluding poetical economium , his work has the characteristic title Kitab at-tanwir fi maulid as-siraj al-munir (The Book of Illumination about the Birth of the Luminous Lamp), in which the light-mysticism associated with Muhammad is evident. Two Hanabilites, Ibn al-Jauzi and, a century and half later, Ibn Kathir, devoted treatises to the maulid. Poetical works about this important event were also composed relatively early." page 152
"Ibn al-Jauzi, without doubt a serious, critical theologian of Hanbalite persuasion and not a mystical poet - wrote in his maulid book, which is the first of this kind:
When Muhammad was born, angels proclaimed with high and low voices. Gabriel came with the good tidings, and the Throne trembled. The houris came out of their castles, and fragrance spread. Ridwan [the keeper of the gates of Paradise] was addressed: "Adorn the highest Paradise, remove the curtain from the Palace, send a flock of birds from the birds of Eden to Amina's dwelling place that they may drip a pearl each form their beaks," And when Muhammad was born, Amina saw a light, which illuminated the palaces of Bostra. The angels surrounded her and spread out their wings. The rows of angels, singing praise, descended and filled hill and dale." page 150
"It is also important to remember that Muhammad was born free from all bodily impurities." page 152
"The conviction that a maulud [song of the Prophet's birth] has a blessing power is not peculiar to Turkish Muslims. Its baraka is acknowledged everywhere in the Muslim world...From the Middle Ages onward it was believed that the recitation of the maulud would grant the listeners not only worldly but also heavenly reward." page 255-256
Naat-e Rasool
Hamd is poetry in praise of Allah, Naat (urdu), Qasida (Arabic and Farsi) Ginan (Gujerati) is poetry in the honor of Prophet Muhammad and the Imams.